Puthut Corleone

Puthut Corleone

Padahal malam itu gerimis turun, tapi Puthut EA datang mengendarai motor bersama anaknya. Keduanya mengenakan jaket tebal untuk menahan tempias hujan.

Kami -berdua belas- telah menunggu kedatangannya untuk wawancara kelas menulis. Begitu turun dari motor, dia menyalami kami satu per satu. Sedangkan anaknya bermain bersama ibunya, yang telah datang duluan disini, di Angkringan Mojok.

Puthut duduk di kursi paling pojok. Kami duduk mengelilinginya. Sambil merokok dan menyeruput segelas kopi, dia bercerita apa saja. Mulai dari bagaimana dia membangun situs mojok.co, jatuh bangun berbisnis kuliner, analisa politik Indonesia, dan tentu saja tentang keluarga.

Bagi Puthut seorang pria yang tidak menghabiskan waktu bersama keluarga tidak pernah bisa menjadi pria sejati. Ini ia kutip dari ungkapan Don Corleone dalam film The Godfather: A man doesn’t spend time with his family can never be a real man.

Sebenarnya Puthut tidak pernah berpikir akan menikah sampai umur 30 tahun. Menurutnya hidupnya sudah tercukupi semua. Dia punya uang, terkenal, dan bisa pacaran sama siapa saja.

“Tapi lama-lama saya pengen juga menikah. Maka saat saya memutuskan untuk menikah, terlebih dahulu saya menjalani laku tirakat,” katanya.

Laku tirakat itu, lanjutnya, bentuknya macam-macam. Namun yang jelas ia tinggalkan semua hal-hal buruk, misalnya saja tidak pacaran lagi. Dia juga berdoa agar diberikan istri yang baik dan sabar. Dua hal itu; baik dan sabar, bukan tanpa alasan. Dalam memilih istri Puthut punya pertimbangan khusus. Istri adalah partner. Orang yang bisa memahami jalan pikiran, mendukung dan memahami apa yang dia lakukan. Hal itu cuma bisa dilakukan oleh wanita yang sabar dan juga baik.

“Saya punya idealisme dalam hidup ini. Bila tidak punya partner yang cocok maka hidup saya bisa berantakan. Nah, istri saya mendukung idealisme saya, termasuk dalam soal bahwa hidup itu tak hanya soal uang,” katanya.

Doa itu pada akhirnya terjawab saat dia bertemu dengan Diajeng Paramita karena dicomblangi temannya. Dia merasa cocok dan menemukan orang yang tepat. Puthut lalu menikahi Diajeng pada tahun 2010.

Kini Puthut telah dikaruniai seorang putra. Namanya Bisma Kalijaga. Sebelumnya dia dan istri memang sudah bersepakat kalau punya anak laki-laki akan diberi nama “Bisma.”

Puthut sempat galau untuk menentukan nama belakang anaknya. Ada beberapa pilihan nama, seperti Karna dan Sosroartono. Tapi dua nama itu kurang sreg dihatinya. Hingga suatu hari secara tak sengaja dia melihat foto Sunan Kalijaga, tokoh yang dia kagumi.

“[Kekaguman itu] Bukan ke soal keislamannya tapi ke soal perjalanan hidupnya yang dari bengal ke alim. Keteguhannya menjaga tongkat sebagai pintu mencari ilmu,” katanya sepeerti tertulis dalam buku “Dunia Kali dan Kisah Sehari-Hari.”

Puthut, seperti pengakuannya dalam buku itu, adalah orang yang sentimentil terhadap keluarga. Terutama terhadpa anaknya; Kali. Dia selalu bertanya pada diri sendiri; apakah yang dilakukan Kali merupakan karakter yang diwariskan darinya?

Maka Puthut ingin mendidik Kali agar punya prinsip yang teguh. Punya jiwa kepemimpinan yang kuat. Karena begitulah dia mendapatkan didikan dari kedua orang tuanya saat masih kecil dahulu.

Bapaknya selalu mengatakan padanya, kalau mau menjadi pemimpin, berbuat sesuatu untuk orang lain maka harus berani bertanggung jawab dan berani mengambil resiko paling besar.”

“Pernah suatu kali saya Bapak marah pada saya hanya karena saya tertidur saat teman datang ke rumah. Ini karena Bapak menganggap saya tidak bisa menepati janji jadwal bertemu,” kenangnya.

Bagi Puthut, keluarga adalah komunitas paling inti. Tempat interaksi dengan intensitas yang paling tinggi.

“Keluarga adalah tanggung jawab terbesar bagi seorang pria,” begitu yang Puthut yakini. Mungkin karena itu dia memposting sebuah foto di akun Instagram miliknya dengan kutipan -sekali lagi- dari God Fahter, “I never wanted this for you. I work my whole life – I don’t apologize- to take care of my family…

Nb. ditulis dalam rangka kelas menulis bersama Cak Rushdi

Menoreh(kan) Kopi

Menoreh(kan) Kopi

Petualangan mencari kopi selayaknya seperti petualangan Ninja Hattori -sebuah film kartun di masa kecil dahulu dengan lagu yang masih terngiang hingga kini: mendaki gunung melewati lembah, sungai mengalir indah.

Itulah yang terjadi malam itu, saat saya dan beberapa rekan mencoba mencari sebuah warung kopi yang berada di bukit Menoreh, Kulon Progo.

Berbekal Google Maps dan Global Pitakonan Sistem, warung kopi Menoreh Pak Rohmat menawarkan suasana adem, hijau, diselingi suara serangga dan tentu yang dicari: secangkir hangat robusta ditemani telo godog, dan gorengan.

Warung itu sederhana saja. Menjadi satu kompleks dengan rumah sang empunya. Begitu kami sampai di lokasi, Pak Rohmat langsung datang menyambut kami dengan ramah. Bertanya darimana sembari mengarahkan kami untuk menuju sebuah gazebo kecil yang terbuat dari kayu dan bambu dan cahaya lampu yang tak terlampau terang, di belakang rumahnya.

“Kalau pagi, di sebelah sana bisa bermain di air terjun, Mas,” kata Pak Rohmat sambil menunjuk sisi kanan gazebo itu.

“Oh, iyakah Pak? Bisa berenang juga?”

“Bisa, Mas. Airnya jernih. Bersih. Banyak juga kok bule yang berenang dan mandi di situ. Masih lahan milik saya itu Mas, jadi satu kompleks dengan kebun kopi,” kata Pak Rohmat.

Sayangnya saya berkunjung di malam hari, sehingga tak bisa melihatnya. Hanya terdengar suara gemericik air.

Namun, bukan itu yang penting. Yang penting adalah kopinya. Tapi ternyata saya ini tak bisa panjang lebar bicara tentang yang penting itu. Maklum saya hanyalah sekadar suka minum saja, tidak tahu detil soal mana yang robusta ataupun yang Arabica.

Maka, cukup aneh bukan?

Kami ini mendaki gunung melewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, hanya untuk minum minuman dengan rasa pahit? Sekali lagi; pahit. Sepahit kenangan bersama mantan (kalau punya… hahahaha…)

Ah, minum kopi mungkin sekadar pengingat bahwa yang pahit pun bisa dinikmati dengan penuh kekhusyukan.

Srupuuuuttt… aah…..

 

Cerita Kopi di Klinik Kopi

“Saya tidak menjual kopi, tapi cerita tentang kopi,” kata Pepeng saat saya pertama kali mengunjungi kliniknya.

Klinik Kopi, begitu Pepeng menamai tempat dia meracik seduhan kopi untuk para pecintanya. Terletak agak tersembunyi dari jalanan ramai. Bagi yang ingin mencoba seduhan kopinya, para pengunjung harus melewati jalan Affandi.

Bila ditempuh dari utara, Anda perlu melaju lagi sekitar lima puluh meter dari perempatan lampu merah ring road ada gang masuk ke kiri kecil. Tinggal lurus dan nanti di tikungan ada sebuah pagar tembok tinggi. Dari luar memang Klinik Kopi tidak tampak seperti cafe pada umumnya. Ia hanyalah sebuah pondok kecil di tengah hutan jati dalam kota. Suasana sejuk dan hening -bila malam hari akan ramai terdengar suara nyanyian serangga.

Klinik Kopi terletak di lantai dua pada bangunan yang cukup besar. Begitu naik tangga kecil maka saya mendapati sebuah ruangan serupa aula. Tanpa kursi dan meja layaknya restoran, tanpa karpet. Aula itu punya jendela-jendela di kanan kirinya, dengan lampu-lampu kecil yang dipasang pada sebuah papan segi empat. Para pengunjung biasanya pada lesehan, selonjoran atau kadang ada juga yang berbaring. Bebad, demokratis, asal tidak menggangu yang lain.

Saya tidak menemui satu pun pelayan yang datang menghampiri sambil membawakan daftar menu. Tidak. Begitu masuk saya harus antri agar dapat duduk di kursi lipat, di depan meja yang ada toples kaca berisi biji-biji kopi. Ada yang warnanya coklat tua, hitam, coklat muda. Masing-masing toples akan bertuliskan nama daerah dimana biji kopi itu diambil.

“Mau ngopi yang bagaimana, Mas? Lebih suka asam atau pahit?” tanya Pepeng. Usianya masih sangat muda, dengan kepala plontos dan celemek hitam, ia lebih cocok jadi pemain band. Di belakangnya ada papan dari triplek yang tertempel beberapa foto-foto saat dia berburu kopi di berbagai daerah.

“Emm…asam aja, karena hidup saya sudah pahit,” jawab saya.

Ia tertawa.

Pepeng selalu memulai pada setiap orang yang datang dengan bercerita tentang biji kopi yang akan ia buat jadi minuman. Darimana biji-biji yang terhidang itu di datangkan. Kalau kita betah ngorbol, maka ia terus akan bercerita panjang kali lbar tentang petualangannya bertemu para petani kopi. Tentang perjalanannya dari kaki gunung Merapi hingga jauh ke Papua.

“Banyak para petani kopi yang tidak tahu nilai kopi. Beberapa tempat saya lihat kopi dijemur di tengah jalan dan dibiarkan begitu saja. Sayang sekali. Saat saya ke sana, saya selalu menyempatkan diri untuk mendidik para petani kopi,” katanya.

Selain bercerita soal asal kopi, ia juga akan bercerita tentang macam-macam kopi. Dengan senang hati ia akan menjelaskan perbedaan biji kopi dari warna hingga rasanya. Sebuah hal yang tidak akan pernah kita dapatkan di cafe manapun, bahkan di warung kopi internasional berlogo wanita berambut panjang dengan latar hijau.

Saya rasa sepertinya Pepeng ini bukan penjual kopi, sebut saja ia adalah seorang pecinta kopi yang membuka warung kopi untuk membagikan apa yang ia punya tentang kopi.

Di Klinik Kopi saya lebih banyak mendengar cerita soal kopi. Minum kopi hanyalah sebagai tambahan saja, namun saya rasa yang membuat orang berdatangan ke Klinik Kopi adalah cerita-cerita itu. Kita bisa menikmati secangkir kopi darimana saja, tetapi tidak di sembarang tempat kita bisa menikmati cerita tentang kopi.

Ah, untuk mengakhiri tulisan ini saya jadi teringat ungkapan itu; kadangkala hidup itu seperti kopi: terasa pahit saat tak bisa menikmatinya.

Cerita di Monas

Cerita di Monas

Jakarta. Sudah beberapa kali aku menginjakkan kaki di ibu kota ini, tapi baru beberapa hari yang lalu baru bisa memasuki Monas. Waktu-waktu sebelumnya aku hanya bisa melihat Tugu Monas berdiri gagah dari kejauhan.

Puncak emasnya tampak megah, tinggi, dengan cat putih dan berdiri di tengah padatnya jalan. Pun suatu ketika aku hanya bisa memandanginya dari luar pagar, sembari berdemonstrasi di depan istana negara yang berhadapan dengannya.

Ya, Monas. Monumen Nasional yang merupakan proyek mercusuar Bung Karno ini akhirnya bisa ku masuki. Tugunya yang serupa obelisk, dan berdasarkan teori konspirasi merupakan bagian dari warisan jejak simbol Yahudi di Jakarta.

Aku masuk lewat pintu timur. Berjalan dari stasiun gambir selama kurang lebih lima menit. Sebelum masuk ke Monas-nya aku mesti berjalan menyusuri tamannya yang luasnya minta ampun. Apalagi dengan kondisi cuaca Jakarta yang amat panas. Di sepanjang trotoar, seperti pemandangan jamak di berbagai tempat wisata, telah banyak para pedagang asongan menggelar dagangannya. Kebanyakan menjual minuman.

“Ada susu coklat, Bu,” kataku menghampiri salah satu pedagang. Seorang ibu yang sudah mulai renta, mengenakan topi. Di telinganya nampak terpasang headset. Ibu ini walaupun lahir di jaman yang belum akrab dengan handphone tampaknya masih tak mau kalah mengikuti trend anak muda.

“Ya, mas?” katanya sambil melepas headset.

“Susu coklat, Bu. Ada?”

“Oh, ya. Ada..ada…Duduk dulu,” katanya.

Alas duduk itu hanya berupa terpal. Luasanya tak lebih dari dua meter persegi. Namun dibawah pepohanan yang rindang, tawaran ibu itu tak sanggup ku tolak.

“Aduuhh…panasnya.”

“Biasa, Mas. Jakarta,” ujarnya seraya mengulurkan gelas plastik berisi susu coklat hangat.

Saya terima, lalu saya taruh. Tidak langsung saya minum, masih panas.

“Saya ini sebenarnya dari Kalimantan, Mas,” kata ibu itu bercerita tanpa saya minta.

Selanjutnya, waktu berpuluh menit kemudian aku habiskan untuk mendengarkan kisah ibu itu. Entak fiksi entak nyata, aku tak begitu mempedulikannya. Bagiku, ini sebuah pengisi waktu yang amat menarik.

Ibu itu ngontrak di Bekasi. Tiap pagi, sekitar jam 5, ia berangkat dari rumahnya naik bus membawa serta barang dagangannya. Sesampainya di halaman Monas ia gelar dagangannya dengan beralaskan terpal yang hanya cukup dibuat duduk untuk lima orang.

Beberapa kali ia pernah diusir oleh satpol PP. Barang dagangannya pernah mau direbut paksa. Ia melawan, banyak diliput media waktu itu dan ia berkata amat sering dicari oleh wartawan untuk dimintai komentar.

“Saya juga gak tahu kenapa wartawan kok nyarinya saya. Lihat itu, orang yang berjalan itu, dia itu wartawan. Sering nanya-nanya saya,” ujarnya sambil menunjuk seorang pria berkaos putih bercelana pendek memakain topi sedang berjalan di kejauhan. Bagiku orang itu lebih mirip sebagai turis, bukan jurnalis.

Katanya ia lari dari rumahnya di Kalimantan. Kecewa dan patah hati karena suaminya malah menikah lagi dengan anak angkatnya. Suaminya seorang prajurit TNI.

Suatu ketika suaminya tahu bahwa ia berjualan di Monas. Katanya ia mendapat informasi dari salah seorang temannya. Ia hampiri ibu itu, kasihan, dan mengajaknya untuk rujuk. Pulang ke Kalimantan.

Ibu itu tidak mau. Masih betah di Jakarta. Tapi menurutku mungkin ia masih belum bisa memaafkan suaminya. Wajahnya tampak ceria, bercerita sambil sesekali tertawa, tapi dibaliknya ada kegetiran yang ia rasakan. Itu kalau cerita yang tadi ia katakan itu sebuah realita, bukan imajinasi. Aku tak sempat mengklarifikasinya, hanya mendengarkan.

Yah, ada banyak kisah nyata di kehidupan ini yang amat mirip dengan kisah sinetron. Amat mirip dengan kisah di buku cerita.

Entah itu sebuah cerita berdasarkan kisah nyata ataupun tidak, yang pasti cerita itu menjadi teman yang berharga saat aku menghabiskan waktu untuk menantimu.

Iya, kamu.

Maaf, Pak! Aher yang Menang

kemenangan aher-demiz

JOGJA- Minggu, 24 Februari 2013, cuaca Yogya sedang dilanda mendung. Suasana jadi nampak murung. Saya memperkirakan akan turun hujan lebat. Entah siang atau sorenya. Oleh karena itulah, di hari libur ini saya yang biasa jalan-jalan lebih memilih untuk menghabiskan waktu di rumah. Bukan tanpa alasan saya lebih memilih di rumah. Saya sudah “capek.” Sepekan ini kehujanan terus menerus. Tiap pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup.
Saya lalu menonton televisi setelah berjam-jam membaca buku di kamar, menonton proses pemilihan Gubernur Jawa Barat. Menjelang siang liputan di semua stasiun televisi menampilkan proses hitung cepat.

“Aher pasti menang,” gumam saya dalam hati. Waktu itu, sekitar jam 13an, hasil suara yang masuk baru 8.5%. Dan hitung cepat menampilkan kemenangan sementara untuk pasangan Rieke-Teten. Selisih sekitar 1,9% dari Aher-Dedi Mizwar.

“Yang menang Rieke!” kata Bapak begitu ia masuk ke rumah. Dilihat dari kaosnya yang nampak kotor mungkin bapak dari makam samping rumah. Atau dari membersihkan teras depan, atau dari ngobrol dengan tetangga di depan rumah. Entahlah.

“Aahh…jagomu nomor 4 tho? Yang dari PKS. Kalah itu, kena korupsi sapi sih,” lanjutnya.

Saya diam saja. Kasus suap daging impor yang menyeret Presiden PKS memang diprediksi banyak orang akan menurunkan popularitas partai berbasis kader tersebut. Saya sebenarnya ingin membalas perkataan Bapak saya dengan berbagai argument rasional. Bahwa baru kali ini saja PKS tersandung kasus korupsi. Itupun kasusnya penuh dengan kejanggalan dan baru satu orang saja yang jadi tersangka. Ingat, baru satu orang!

Saya ingin mengajukan berbagai macam data dan fakta. Perbandingan jumlah kepala daerah yang sudah jelas-jelas dinyatakan bersalah karena korupsi. Dalam hati saya berkata, “Pak, itu lho partai pengusung Rieke itu juga yang mengusung mantan Bupati Sleman yang beberapa tahun lalu jadi terdakwa korupsi dana buku.”

Namun saya hanya diam. Bagaimana mungkin saya hendak menyanggah perkataan Bapak saya? Hanya akan jadi “perang Batharayudha” di dalam rumah. Saya hanya menimpali dengan pernyataan ringan saja.

“Kita tunggu saja, Pak. Suara yang masuk saja baru 8,5%,” jawab saya.

Bapak tak mau kalah. Ia tak menggunakan analisis geopolitik atau analisis tipe pemilih, Bapak saya tidak bisa berpikir sejauh itu.
“Kalau awalnya sudah menang, ya nanti terus ya tetap menang,” begitulah cara berpikir Bapak. Sederhana saja walaupun sudah pasti tak selalu akurat.

Menanggapi itu saya hanya senyum-senyum saja. Sudahlah, biar waktu yang akan menyanggah keyakinan Bapak.

Sebenarnya pilihan Bapak pada Rieke tak didasari dengan pertimbangan yang rumit. Dari segi tipologi pemilih yang sering disampaikan para pengamat, bapak termasuk tipe pemilih tradisional. Yang memilih berdasarkan keyakinan semata. Berdasar loyalitas.
Rieke ia dukung karena dia calon yang diusung oleh partai yang dari dulu didukung bapak. Walaupun kalau saya melihat sebenarnya bapak tak fanatik pada partainya, tapi lebih pada sosok Bung Karno. Bahkan di rumah pun tergantung foto Bung Karno berukuran besar. Dan kebetulan salah satu putri Bung Karno menjadi ketua umum salah satu partai besar di Indoensia.

“Kemarin kan Jokowi melu (ikut) kampanye tho? Yo, uwes jelas iku,” lanjutnya dengan raut muka penuh keyakinan. Sepintas malah terlihat senyum meremehkan.

Saya yang mendengar itu lalu berpikir seberapa efektifkah magnet media darling Jokowi? Kalau benar Jokowi bisa signifikan menggaet banyak suara, maka pertarungan politik akan dominan pada citra semata? Ah, saya berpikir terlalu jauh. Atau mungkin itulah sifat orang yang menempuh pendidikan tinggi? Kadangkala suka berpikir terlampau rumit dan njlimet.

Hari itu selama kurang lebih tiga puluh menit saya otomatis menikmati ceramah bapak tentang pemilihan gubernur Jawa Barat. Dibumbui sedikit ledekannya tentang PKS.

Namun keadaan berbalik. Bapak tak lagi bisa berkomentar setelah quickcount perlahan-lahan menunjukkan presentase Aher-Dedy Mizwar yang merangkak naik. Bahkan melampaui 30% suara. Berdasrkan data yang dirilis Lingkaran Survey Indonesia (LSI) Aher-Demiz memperoleh 33,14% suara. Disusul Rieke-Teten 27,92% suara. Dibelakangnya ada Dede-Lex dengan 25,23% suara.

Saya senang sekali. Bukan saja terkait hasil quick count, tapi bisa mematahkan keyakinan Bapak yang daritadi ngotot. (Ah, jahat sekali ya saya. Bergembira diatas kesedihan Bapak sendiri..hehehe…piss )

“Tuuh, Pak. Aher tho yang menang. PKS!” kata saya sambil tersenyum lebar.

Bapak hanya tertawa. Memperlihatkan barisan giginya yang mulai tanggal.
“Alah, kuwi kan karena Aher sing apik. Ra melu keno kasus daging sapi,” jawabnya.
“Hadeuh, ada-ada saja Bapak ini. Tetap saja tidak mau mengakui kemenangan partai,” kata saya.
Saya hanya tersenyum. Lalu mematikan televisi setelah hasil akhir hampir dapat dipastikan. Hari sudah sore waktunya mandi. Perbedaan pandangan politik semacam ini hanyalah “senda gurau” semata bagi keluarga. Perbedaan pandangan ini tidak berpengaruh ke hal-hal lain.

Sambil menuju kamar mandi, saya berkata kepada bapak yang sedang duduk di kursi, “Maaf, Pak! Aher yang menang!”