Rahwana

Sejarah selalu ditulis oleh para pemenang. Mereka menuliskan sejarah kadang dengan membungkam suara orang-orang yang kalah. Tapi bagaimana bila sejarah dikisahkan oleh orang yang kalah?

Bagaimana bila yang kalah juga menyimpan kebenaran? Bagaimana bila yang kalah, yang terhina, yang keok, yang diinjak-injak, juga menyimpan kebijaksanaan dan impian yang sama?

Itulah yang ingin disampaikan dalam buku ini; Rahwana. Karangan Anand Neelakantan dari India.

Membaca buku ini mengingatkan saya pada buku yang berkisah tentang Gengis Khan. Penguasa bangsa Mongol yang terkenal kekejamannya. Tapi buku itu juga bercerita tentang sisi lain Gengis Khan. Tentang pengalaman pahitnya, penindasan yang ia terima, dan pandangan hidupnya yang melatarbelakangi segala tindakannya.

Buku ini menceritakan perjalanan hidup Rahwana dari sudut pandang orang pertama. Membacanya seolah-olah kita akan akan digiring untuk berpikir dan memandang sesuatu seperti Rahwana.

Dimulai dari kisah Rahwana muda yang terusir dari Alengka. Lalu ia belajar dan berguru pada raja Alengka terdahulu, Mahabali, yang tak lagi kekuatan. Oleh Mahabali ia diminta untuk menanggalkan 9 sifat dan hanya menyisakan 1 sifat saja. 9 sifat yang diminta untuk ditanggalkan adalah amarah, kebanggan, kecemburuan, kegembiraan, kesedihan, rasa takut, sifat mementingkan diri sendiri, hasrat dan ambisi. Dan satu sifat yang tersisa adalah akal budi.

Rahwana menolak. Tidak! Menurutnya menanggalkan 9 sifat itu artinya tidak menikmati kehidupan sepenuhnya, dan ia ingin mereguk kehidupan ini seutuhnya. Semuanya. Dari situlah kemudian ia dikenal sebagai Dasamuka. Ia lebih memilih mendefinisikan dirinya sebagai Dasamuka, disaat orang lain kesulitan untuk mendefinisikan dirinya sendiri.

Ia penuh ambisi. Ia penuh kebanggan. Ia penuh amarah. Ia egois, dan dengan bekal itu ia bertekad untuk menyatukan bangsa Asura yang terserak. Untuk merebut kembali Alengka dan mengembalikan kejayaan bangsanya lewat berbagai intrik dan peperangan.

Nah, yang mengejutkan dalam kisah Rahwana ini bukan tentang ia adalah Raja Alengka yang bengis, kejam dan menindas dan sempat-sempatnya bikin gara-gara dengan menculik Sinta. Tapi kenyataan bahwa Sinta adalah putri dari Rahwana itu lho yang bikin, “walah, tenane ceritane ngene kie?”

Ya, Rahwana sebenarnya bukan menculik tapi ia membawa putrinya kembali pulang. Tentu Sinta tidak berpikir demikian, karena sejak bayi ia telah dibuang ke negeri lain. Tidak dirawat dan dibesarkan oleh Rahwana, Bapaknya.

Apa salahnya membawa putri yang dicintai kembali pulang? Apalagi melihat bahwa putrinya malah harus hidup menderita di hutan gara-gara tingkah suaminya yang sok-sok’an? Mana ada ayah yang tega membiarkan hal itu terjadi.

Akhirnya Sinta pun berhasil dibawa ke Alengka. Tentu ini memicu kemarahan Rama. “Ngajak perang nih si Rahwana,” katanya. Singkat kata, Hanoman si kera putih, mengajukan diri untuk membawa Sinta pulang. Dan akibat ulah Hanoman ini, kota Alengka terbakar habis. Bong..obong..obong..obong…..!

Kita jadi kasihan melihat nasib Rahwana. Seorang raksasa “dikadali” oleh munyuk. Tak berapa lama kemudian perang antara Rama dan Rahwana tak terhindarkan. Yang berakhir pada tewasnya Sang Dasamuka.

Rahwana sebenarnya memimpikan dunia yang damai. Dunia dimana tidak ada kasta dan diskriminasi, semua setara. Dunia dimana penuh keadilan dan kesejahteraan bagi bangsanya; Asura. Dunia yang tanpa peperangan, tanpa pertumpuhan darah dan tanpa kebencian, sama seperti cita-cita Madara Uchiha.

Namun layaknya Madara, Rahwana ternyata menempuh jalan yang keliru untuk mewujudkan mimpinya. Keliru dalam benak banyak orang tentu saja, dalam benak Rahwana, ia selalu yakin bahwa apa yang ia lakukan adalah benar.

Kisah hidup Rahwana pun tak kalah getir. Ia harus mengalami pengkhianatan oleh adiknya sendiri, Wibisana, yang lebih memilih berpihak pada Rama. Pun ia harus menyaksikan adiknya yang lain, Kumbakarna, tewas dalam peperangan. Menyaksikan istri dan anak-anaknya, Meganada dan Athikaya, merenggang nyawa.

Cerita dalam buku ini tentu saja berbeda dengan cerita Ramayana yang kita kenal. Buku ini akan memberikan kepada kita perspektif yang berbeda tentang baik dan buruk.

Kebetulan saat membaca buku ini saya juga membaca Lelaki Harimau-nya Eka Kurniawan, dan menurut saya keduanya ada kemiripan pesan cerita yang ingin disampaikan pada para pembaca. Bahwa kejahatan dan kebaikan kadang sulit dibedakan dalam dunia manusia dengan segala kenjlimetan tindakannya.

Beginilah Dulu Ibu Mengasuhku

Di tanganku, tergenggam foto ukuran kartu pos. Pinggirnya sudah berjamur. Namun gambarnya masih tampak jelas. Di foto itu ada aku, ibuku, dan satu orang anak tetangga yang dulu sering main kerumahku.

Aku tak bisa mengingat foto itu tahun berapa. Yang kutahu, bahwa di foto itu wajahku masih terlihat duduk di sekolah dasar.

Kami duduk di sebuah bangku yang cukup luas. Sebenarnya itu ranjang, yang ditaruh di luar rumah.

Ibu ada di belakangku. Aku nampang di depan. Sambil memegang mainan. Ibu sedang membuat kerajinan yang akan ia jual kembali ke esokan harinya. Anak satunya duduk di sepeda roda tiga sambil mendongak ke atas. Melihat kamera.

Aku sendiri hanya melihat kebawah. Tidak senyum. Rasanya waktu itu, aku memang tak begitu suka di foto.

Menurutku ibu adalah wanita luar biasa. Dan mungkin setiap ibu adalah wanita yang luar biasa. Hal luar biasa yang ibu lakukan padaku misalnya saja, yang sederhana, adalah menyiapkan susu sebelum aku berangkat sekolah.

Saban pagi, semenjak aku duduk di bangku TK selalu saja tersaji susu hangat di meja makan yang akan ku minum sebelum berangkat sekolah. Dan ibu tak memandang bahwa aku sudah dewasa atau masih anak-anak, susu itu selalu ada walaupun aku sudah duduk di perguruang tinggi. Mungkin bagi seorang ibu, segede apa pun anaknya akan tetap menjadi anak-anak dimata ibunya.

Kalau saja bisa dihitung, misalnya aku sekolah TK 1 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun dan kuliah, ehm, 5 tahun. Maka totalnya ada 18 tahun. (Duh, lama juga ya sekolah di Indonesia ini… 😀

Selama 18 tahun lebih ibuku selalu membuatkan aku susu coklat.

Mungkin hanya itu yang bisa dilakukan ibuku untuk membekali anaknya ini menempuh pendidikan. Agar jadi anak pintar. Cerdas dan bisa membanggakan. Bukankah setiap orang tua ingin anaknya begitu bukan? Cerdas.

Itu yang bisa dilakukan ibuku, karena ia tak bisa mendampingiku belajar. Ya, karena ibuku hanya sekolah sampai kelas 2 SD saja. Maka ibuku termasuk dari sekiar 47ribu (data tahun 2014) orang yang masih buta huruf yang ada di Jogja.

Aku ingat, saban malam setiap ada PR dari sekolah, ibuku hanya bisa melihat. Saat aku bertanya padanya, ia selalu menggeleng. Tidak tahu. Aku yang mesti mencari-cari jawabannya sendiri. Kadang bisa bertanya pada ayah, tapi jarang ku lakukan.

Yang sangat ku sesali saat ini adalah bahwa dulu aku selalu merasa malu bila ibu mengambil raportku. Bukan karena aku malu mendapat ranking jelek, tidak. Jelas bukan itu. Tapi aku malu bila ibu mesti diminta untuk membaca dan menandatangai raportku. Aku malu bila guruku tahu bahwa ibuku hanya sekadar tanda tangan saja tak bisa.

Padahal seharusnya aku malah bangga pada ibu. Ibu yang buta huruf, bisa membesarkan anak yang nilainya yah, saat sekolah dasar sih biasanya juara kelas.

Begitulah salah satu fragmen hidupku tentang bagaimana ibu dulu mengasuhku. Mungkin pengasuhan yang ibuku lakukan tidak sesuai dengan teori-teori parenting masa kini.

Harusnya ibu mendampingi anak belajar, tapi itu tidak dilakukan ibuku.

Baiknya ibu membacakan cerita untuk anak sebelum tidur, tapi itu tidak dilakukan ibuku. Baiknya ibu mendampingi anak bermain, tapi ibuku malah sibuk bekerja. Tapi ibuku tidak pernah kekurangan cinta dan kasih sayang dalam membesarkanku.

Ibuku mungkin kurang pintar, tapi ia punya lebih cinta.

Saat ini tentu kondisinya berbeda. Sebagai orang tua yang lahir pada jaman lebih baik, tentu kita akan menerapkan pola asuh yang berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang tua dahulu. Ada ilmu baru yang bisa kita dapatkan untuk mengasuh anak dengan lebih baik.

Ada tantangan yang lebih besar di masa mendatang. Ada masalah-masalah yang lebih kompleks untuk menyiapkan anak-anak kita. Ada persoalan yang dulu tidak ada, misalnya saja gadget, dan kita harus mengahadapinya kini.

Maka menjadi orang tua saat ini, tentu berbeda dengan menjadi orang tua masa lalu.

Itulah kenapa orang tua adalah orang yang tidak pernah selesai belajar. Seperti yang dikatakan oleh Fauzil Adhim, pakar parenting, bahwa Parenting is a journey. Mengasuh mendidik anak merupakan perjalanan tiada henti, perjalanan yang meminta kesediaan untuk terus belajar dan berbenah.

Mamak

Mamak

Waktu menunjukkan pukul 23.15, walau saya tidak punya jam tangan, tapi saya bisa mengetahuinya dari layar hape yang saban menit selalu saya cek notifikasinya. Malam itu saya habis ngopi-ngopi, kongkow bersama kawan sambil bermain kartu taktik yang lebih seru dari main COC.

Rumah sudah gelap karena lampu sudah dimatikan. Dan memang biasanya begitu saat saya pulang malam. Pulang saat semua sudah tidur.

Saya buka pintu. Lalu menuntun motor untuk saya bawa masuk rumah.

“Seko ngendi, Le?” Kaget saya mendengar suara itu. Ternyata Mamak -panggilan kami, ketiga anak-anaknya, kepada Ibu. Diambil dari akar kata “Mamah.” Wakakaka

“Dolan,” saya biasa menjawab seperti itu. Dan Mamak pun lantas tak bertanya lebih lanjut. Ia sudah mahfum anaknya ini pulang malam.

Dolan. Main. Sudah menjadi kebiasaan semenjak dekade terakhir. Dulu saya tak pernah pulang larut malam, namun semenjak menginjak bangku kuliah, pulang malam seperti kebiasaan. Walaupun sebenarnya kalau dipikir-pikir saat ini, saya hanya akan bertanya, “Mbiyen ngopo wae yo aku kie?”

“Kok belum tidur, Mak?” tanya saya.

“Belum. Mau lek-lek’an (begadang). Tirakat.”

“Tirakat apa?”

“Sekarang ‘kan hari lahirmu.”

Saya terdiam.

Mamak memang bukanlah model mama modern yang berpendidikan tinggi. Ia hanyalah perempuan Jawa yang seperti kebanyakan.

Nah, tirakat begadang ini memang seringkali didapati dalam kebudayaan Jawa. Misalnya saja saat peringatan kemerdekaan Indonesia. Nah, pada malam 16 Agustus itu biasanya diadakan Malam Tirakatan. Isinya adalah perenungan untuk mengenang dan mensyukuri kemerdekaan. Maka sesungguhnya menurut saya, tirakatan adalah bentuk penghayatan sebuah peristiwa yang bernuansa hening dan sunyi. Maka saya bingung juga bila malam tirakatan kemerdekaan kok full sound music spesical rock and dangdut.

Maka malam itu Mamak ‘menirakati’ hari lahir saya, walaupun sebenarnya menurut kalender masehi hari ulang tahun saya masih beberapa bulan ke depan. Namun yang dipakai Mamak adalah hari lahir menurut tanggal Jawa. Saya lahir pada Kamis Legi.

Saya tidak tahu kenapa Mamak lebih memilih hari dalam penanggalan Jawa, mungkin ia tahu bahwa kalau menurut penanggalan masehi maka hari lahir saya sudah diperingati oleh seluruh penduduk dunia. Hehehe… Juoss tho.

Mamak keluar rumah. Menutup pintu. Duduk-duduk saja di teras. Diam. Jalanan sudah sepi. Tidak ada motor yang berseliweran. Belum ada pekerja proyek pengaspalan jalan yang nglembur malam-malam. Tidak ada lagi tetangga yang mengambil jimpitan uang ronda.

Saya juga tidak tahu apa yang ia pikirkan. Atau apa yang ia doakan untuk anaknya ini. Yang saya tahu; pasti isinya adalah demi kebaikan saya.

Itulah laku tirakat yang dilakukan Mamak demi anaknya ini. Diluar yang ia lakukan dalam tiap doa-doa. Semua demi anak kurang ajar yang jarang menelpon dan SMS saat sedang pergi jauh dan membuat bertanya-tanya seisi rumah. Anak paling mempesona namun belum juga memberinya mantu idaman.

Itulah Mamak. Yang saban pagi selalu membuatkan saya segelas susu coklat. Dan itu ia lakukan sejak sekolah dasar hingga sekarang. Selalu.

Nah, yang lebih kurang ajar lagi, saat Mamak ‘menirakati’ saya , eh saya-nya malah tidur. Hehehe….

Lha, gimana? Wong, mamak juga yang nyuruh saya untuk tidur kok. Masa’ saya melawan perintah orang tua. Iya tho?

.

.

.

Nb. Jadi, apa kamu masih ragu denganku, Dik? Kelak yang mendoakan kebersamaan kita itu adalah orang seperti Mamak saya lho. Dan yang pasti juga Ibumu tho, Dik. Gusti Allah pastinya mendengar doa tulus ibu kita tho.

Garis Tangan

Garis Tangan

Bukan hal aneh bila ada orang ingin mengetahui nasibnya di masa depan. Bukan pula hal yang mengagetkan bila berbondong-bondong orang ingin mengubah nasib dan keberuntungannya. Sudah menjadi tabiat manusia untuk selalu ingin tahu, ingin kepastian, perihal hal-hal yang tak ia ketahui dan tak pasti.

Maka bila saya membaca sebuah berita yang dirilis salah satu media bahwa ada sekelompok orang yang melakukan operasi untuk mengubah garis pada telapak tangan karena dipercaya bisa mengubah nasib, bukanlah suatu yang aneh bin ajaib.

Kalau sampeyan gak percaya, ini saya kasih link nya: http://dunia.tempo.co/read/news/2015/10/03/118706156/ups-warga-korsel-operasi-garis-tangan-demi-ubah-nasib

Eh, ada pula sumber lainnya neh: http://health.liputan6.com/read/641821/demi-mengubah-peruntungan-orang-jepang-operasi-garis-tangan

Manusia tak pernah bisa “memastikan” keadaan di masa depan, yang ia lakukan hanyalah memprediksi, mengira-ngira, membayangkan, dan berimajinasi. Namun tak ada satupun yang bisa berkata “pasti.” Inilah alasan mengapa peramal adalah profesi yang ada sejak jaman dahulu sampai esok mendekati kiamat. Namun sehebat apa pun peramal tidak akan pernah bisa menjanjikan suatu hal pasti, hanya kitab suci yang bisa mengabarkan sebuah hal yang pasti.

Maka konsekuensi logisnya adalah waktu, masa depan, memunculkan ketakutan. Masa depan yang tidak pasti membuat anak-anak muda di jepang atau korea itu nekat sampai harus melakukan operasi garis tangan. Mereka takut tidak sukses, tidak berhasil, gagal dalam pekerjaan, maka ubahlah garis tangan karena garis tangan menentukan nasibmu. Kata berita itu, biasanya ada empat garis pada tangan yang terpercaya berperan dalam keberuntungan seseorang dan salah satunya terpercaya mempengaruhi takdir serta nasib.

Tapi, kalau saya pikir-pikir, mungkin memang ada benarnya. Banyak kasus orang-orang yang bekerja keras, berusaha hingga tetes keringat, namun hasilnya tak seberapa. Hanya kegagalan yang ditemui. Namun ada juga orang yang cuma ongkang-ongkang kaki, eh sudah punya hasil yang luar biasa.

Iya kan?

Maka bila ada dua orang yang kadar usahanya sama namun hasilnya berbeda, orang-orang lalu berkata: tergantung garis tangan. Benar juga ya?

Ini juga yang kadang membuat agak gimana gitu sebuah ungkapan motivasi bahwa “hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha.”

Iya, benar juga sih. Bahwa bila kita berusaha dengan baik, disiplin, penuh rencana, penuh dedikasi, dan kawan-kawannya maka kemungkinan memperoleh hasil yang sesuai harapan akan makin besar. Bukankah begitu tho?

Namun kadangkala saya juga teringat satu hal bahwa, “hasil itu kan urusannya Gusti Allah, bukan semata urusannya usaha.”

Ah, mengakhiri tulisan ngalor ngidul ini, saya kutip lagi ya: “Mengomentari masalah itu seorang profesor psikologi yang enggan disebutkan namanya mengatakan: “Sebenarnya usaha mereka yang mencari kerja menggunakan operasi plastik seperti ini sia-sia. Tapi kasihan karena mereka begitu putus asa.”

Analisa teori psikologinya begitu, tapi kalau saya sendiri tentu belum bisa mengamalkan dengan sempurna.

Meniti Tali

Meniti Tali

Aku tulis sajak cintaku ini
Karena tak bisa ku bisikkan kepadamu.
Rindu mengarungi senin, selasa, rabu
Dan seluruh minggu.
Menetes bagaikan air liur langit
Yang menjadi bintang-bintang.

(Rendra, 2003)

Seperti yang diungkapkan Rendra, bahwa rindu ini tak bisa kubisikkan padamu. Rindu ini mengarungi hari demi hari, berkecamuk dalam dada.

Setelah sekian lama, siapa yang bisa menyangka bahwa pada akhirnya aku akan sendirian disini? Menghadapi dilema kehidupan yang terus saja menerpa. Siapa yang menyangka aku akan menantang badai ini seorang diri?

Akhirnya aku tahu, bahwa aku seperti orang yang sedang meniti tali. Berada dalam bahaya yang ternyata hanya ku buat sendiri. Siapakah yang bisa menyangka baik ataupun buruk dari setitik peristiwa dalam perjalanan hidup seseorang? Ah, bukankah cinta masa lalu bukanlah hal yang mesti disesali untuk esok hari.

Ya, aku hanyalah seorang pria yang berjalan meniti tali.

Saat berada di atas tali itulah jantungku berdegup kencang. Aku tutup mataku, berusaha menghilangkan rasa takut. Ku penuhi yakinku dengan terus menghitung harapan agar bisa sampai di ujung tali, padamu.

Aku terus berjalan pada tali itu. Mengacuhkan rasa takut dan kuatir. Namun semakin ku paksa hati untuk menerima semua kenyataan ini, hasilnya malah makin jauh aku pada kebenaran yang mesti ku terima.

Tapi bukankah aku mesti harus tetap berjalan? Meniti tali ini dengan segenap jiwa. Melalui jalan ini yang mesti ku terima dengan lapang dada.

Aku mesti berjalan terus. Karena jika aku tak terus berjalan, aku justru akan terjatuh.

I have to keep walking
To keep me from falling down, yeah..

*tafsir sak karepe dewe dari lagu Man On a Wire – The Script.

Cek lagunya disini. https://www.youtube.com/watch?v=QV62YRpIeUA