Ode Pecel Lele

“Urip mung mampir gawe sambel.” Mungkin itu pedoman yang dipegang erat-erat oleh bakul pecel lele. Tentu saja kalimat itu hasil karangan saya sendiri. Dari pemelesetan urip mung mampir ngombe.

Saya pernah mengatakan bahwa sambel adalah pembeda paling signifikan diantara banyaknya bakul pecel lele yang kita temui di seantero jagat raya.

Ayamnya bisa jadi sama, lelenya bisa jadi di suplai oleh peternak yang sama, minyak buat goreng juga sama, lalapannya tidak jauh berbeda, tapi sambelnya, walau bahan-bahannya sama tetap saja menjadi perbedaan besar. Dan tidak pernah ada yang sama persis.

Tempo lalu saya berniat melancarkan protes keras ke warung pecel lele langganan dekat rumah. Sudah sekian lama ia tidak buka. Setiap kali saya lewat dan berniat makan di warungnya, setiap kali itu pula hanya ada bangku-bangku tergeletak begitu saja. Tentu hal itu merepotkan, terutama bagi saya yang bila pulang larut malam masih saja lapar.

Biasanya warung itu tutup cuma beberapa hari. Maksimal seminggu. Bila tutup, biasanya mas-nya yang jual sedang mudik ke kampung halaman. Namun kali ini ia tutup hingga berminggu-minggu.

Hingga tiba kemarin akhirnya warungnya buka lagi.

“Endi juragane? Kok suwe timen ra buka-buka. Wes ra niat dodolan po piye?” tanya saya dengan nada agak keras pada staf yang biasa mendampingi.

“Juragane ora ono,” jawabnya.

“Heloh, ora ono neng endi?”

“Ora ono. Wes meninggal,” jawabnya sambil mengusap air mata yang tak jatuh.

Mendengarnya saya langsung kaget. “Kok iso?!!”

Kemudian dia bercerita bahwa suatu malam bakul e pecel lele sedang melayani pelanggan. Tidak ada yang aneh malam itu. Semua tampak normal, bahkan sore sebelumnya dia masih bertemu kakaknya untuk bersenda gurau.

Tidak ada tanda-tanda ia sedang kelelahan atau menderita sakit. Kejadian itu berlangsung cepat. Malam itu tiba-tiba ia ambruk tidak sadarkan diri. Semua yang ada di warung kaget. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Namun tampaknya takdir sudah menentukan jalannya.

Ia menghembuskan nafas terakhir malam itu.

Mendengar cerita itu saya tertunduk. Rasa-rasanya penghujung tahun hingga awal tahun ini kematian makin akrab dengan kita semua.

“Ada baiknya mati muda dan mengikut mereka yang gugur sebelum waktunya,” kata Bapaknya Dian Sastro.

Warung itu tetap buka dengan sedikit perubahan manajemen. Kakanya yang menggantikan. Tempatnya sama, ayam gorengnya sama, sambalnya bisa jadi dengan resep yang sama, tapi tetap saja rasanya berbeda.

Sewaktu mau pamit sehabis makan dan membayar saya bertanya pelan, “Mas e sopo jeneng e?”

“Sholeh.”

Saya tertunduk sambil mendoakannya. Sekian lama saya menikmati olahannya, malam itu saya baru tahu namanya. Semoga khusnul khatimah, Mas Sholeh. Matur nuwun sudah menyajikan pecel lele yang enak buat kami sekeluarga.

WhatsApp Image 2020-02-03 at 13.52.00

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s