Nego

Suatu hari Pak Haryo mengeluh pada Pak Toro.

“Lagi sepi saiki ojek online e,” katanya.

“Lha, yo ngono kui. Kadang rame kadang sepi kui wes biasa. Tenang wae, rejeki wes diatur Gusti Allah,” jawab Pak Toro. “Wes. Ayo, melu aku wae. Golek panganan neng Rembug Dhahar.”

Tak berapa lama keduanya pun pergi ke Embung Potorno.

“Mangan sing akeh. Mumpung tak bayari.”

“Tenane? Alhamdulillah.”

Pak Haryo pun tanpa ragu mengambil seporsi besar nasi mandi. Dan dia makan dengan lahap.

“Wa, enak tenan iki! Rasane mantep tenan segane. Es jeruk e yo enak. Eh, iki bebek goreng e yo empuk,” katanya.

Pak Toro yang mendengar cuma manggut-manggut setuju.

Tak berapa lama kemudian keluarlah nasihat berharga dari Pak Toro kepada Pak Haryo.

Ngene lho, kata Pak Toro sambil makan, rejeki kui akeh bentuknya. Ada yang berupa nikmat kesehatan, nikmat berteman dengan orang baik. Termasuk kowe tak jajakke saiki kui yo terhitung rejeki. Dadi ora mung bentuk duit cash.

Pak Haryo mendengar dengan takzim.

Tak berapa lama kemudian, setelah selesai makan, Pak Haryo pamit ke mushola warung sebentar.

Ia hendak sholat. Selesai sholat ia berdoa, “Gusti, matur nuwun atas rejeki yang Engkau berikan kepada Hamba. Termasuk rejeki saget makan nasi magbluba ten Rembug Dhahar kanti mboten mbayar niki. Emm, menawi saget, mbenjang rejekine sing cash mawon nggih. Soale kulo butuh e nggih duit cash je. Amin.”

Begitulah kelakuan para murid Kiyai Sidi. Gusti Allah wae di nego.

Prasangka Buruk Sama Teman

Suatu hari Pak Toro akan menghadiri acara pengajian di tempat Kiyai Ahmad. Ia janjian bersama temannya; Pak Aryo.

“Pokokmen aku nek ra diamfiri, ora menyang,” katanya.

“Yoh, tak amfiri. Tunggu pinggir dalan. Mengko nek wes cerak tak telpon. Suwe, tinggal,” begitu permintaan Pak Aryo.

“Yoh, siyap.”

Pak Toro pun segera bersiap-siap. Kurang lebih masih ada waktu sekitar 10 menit untuk temannya sampai di pinggir jalan dekat rumah Pak Toro, sehingga ia memutuskan untuk menunaikan sholat isya terlebih dahulu.

Namun saat sudah dapat dua rakaat, tiba-tiba hape yang ditaruh di depannya berbunyi. Dari namanya sudah terlihat bahwa yang menelpon adalah Pak Aryo.

Tanpa ragu Pak Toro langsung menyambar hapenya dan memutuskan untuk membatalkan sholatnya. “Piye?”

“Wes neng dalan, gek ndang.”

“Yoh,” jawab Pak Toro sambil mengambil baju dan tidak jadi sholat isya. “Mengko sholat isya neng lokasi wae,” begitu pikir Pak Toro.

Sesampainya di dalam mobil, Pak Toro pun bercerita bahwa ia tadi sedang sholat isya. Begitu Pak Aryo telpon ia langsung membatalkan sholatnya yang baru dapat dua rakaat.

“Loh, kepiye tho kui?” tanya Pak Aryo kaget. “Sholat kok dibatalke mergo telepon.”

“Ngene lho. Insya Allah, aku ngerti nek Gusti Allah kui pangerten. Lha nek kowe kie blas ra pangerten je. Coba nek mau ora tak angkat, lha yo nek wes jelas thok tinggal tho Booss….”

Begitu mendengarnya Pak Aryo dan yang lain pun tertawa. “Woaalaaah, sempruull…”

Itulah kelakuan para murid homeschooling yang bengal. Selalu mengutamakan prasangka baik pada Allah, dan mengedepankan prasangka buruk pada teman sendiri.

Ode Pecel Lele

“Urip mung mampir gawe sambel.” Mungkin itu pedoman yang dipegang erat-erat oleh bakul pecel lele. Tentu saja kalimat itu hasil karangan saya sendiri. Dari pemelesetan urip mung mampir ngombe.

Saya pernah mengatakan bahwa sambel adalah pembeda paling signifikan diantara banyaknya bakul pecel lele yang kita temui di seantero jagat raya.

Ayamnya bisa jadi sama, lelenya bisa jadi di suplai oleh peternak yang sama, minyak buat goreng juga sama, lalapannya tidak jauh berbeda, tapi sambelnya, walau bahan-bahannya sama tetap saja menjadi perbedaan besar. Dan tidak pernah ada yang sama persis.

Tempo lalu saya berniat melancarkan protes keras ke warung pecel lele langganan dekat rumah. Sudah sekian lama ia tidak buka. Setiap kali saya lewat dan berniat makan di warungnya, setiap kali itu pula hanya ada bangku-bangku tergeletak begitu saja. Tentu hal itu merepotkan, terutama bagi saya yang bila pulang larut malam masih saja lapar.

Biasanya warung itu tutup cuma beberapa hari. Maksimal seminggu. Bila tutup, biasanya mas-nya yang jual sedang mudik ke kampung halaman. Namun kali ini ia tutup hingga berminggu-minggu.

Hingga tiba kemarin akhirnya warungnya buka lagi.

“Endi juragane? Kok suwe timen ra buka-buka. Wes ra niat dodolan po piye?” tanya saya dengan nada agak keras pada staf yang biasa mendampingi.

“Juragane ora ono,” jawabnya.

“Heloh, ora ono neng endi?”

“Ora ono. Wes meninggal,” jawabnya sambil mengusap air mata yang tak jatuh.

Mendengarnya saya langsung kaget. “Kok iso?!!”

Kemudian dia bercerita bahwa suatu malam bakul e pecel lele sedang melayani pelanggan. Tidak ada yang aneh malam itu. Semua tampak normal, bahkan sore sebelumnya dia masih bertemu kakaknya untuk bersenda gurau.

Tidak ada tanda-tanda ia sedang kelelahan atau menderita sakit. Kejadian itu berlangsung cepat. Malam itu tiba-tiba ia ambruk tidak sadarkan diri. Semua yang ada di warung kaget. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Namun tampaknya takdir sudah menentukan jalannya.

Ia menghembuskan nafas terakhir malam itu.

Mendengar cerita itu saya tertunduk. Rasa-rasanya penghujung tahun hingga awal tahun ini kematian makin akrab dengan kita semua.

“Ada baiknya mati muda dan mengikut mereka yang gugur sebelum waktunya,” kata Bapaknya Dian Sastro.

Warung itu tetap buka dengan sedikit perubahan manajemen. Kakanya yang menggantikan. Tempatnya sama, ayam gorengnya sama, sambalnya bisa jadi dengan resep yang sama, tapi tetap saja rasanya berbeda.

Sewaktu mau pamit sehabis makan dan membayar saya bertanya pelan, “Mas e sopo jeneng e?”

“Sholeh.”

Saya tertunduk sambil mendoakannya. Sekian lama saya menikmati olahannya, malam itu saya baru tahu namanya. Semoga khusnul khatimah, Mas Sholeh. Matur nuwun sudah menyajikan pecel lele yang enak buat kami sekeluarga.

WhatsApp Image 2020-02-03 at 13.52.00