Setelah Bapak Tidak Ada (Lagi)

Manusia adalah mahkluk hidup di dunia ini yang bisa memaknai sebuah kematian. Bagi kita kematian tak hanya sekadar berhentinya fungsi organ-organ tubuh. Tidak hanya jantung yang berhenti berdetak, namun ada makna kelangan.

Persis seperti yang dikatakan dalam sebuah puisi, “saat daun gugur tak ada titik darah, tapi di ruang kelam ada yang menangis sedih.”

Saat seseorang meninggal tak ada satu pun darah yang mengucur dari tubuh kita. Kita masih baik-baik saja, masih sehat. Namun selalu ada pecah tangis yang mengiringi, walau kita sepenuhnya sadar bahwa yang namanya hidup pasti menemui mati.

Jika mati adalah berpisahnya roh dengan tubuh dan tubuh yang dikubur itu pelan-pelan akan hancur. Tetapi kita melihat kematian jauh lebih dari itu. Beberapa pendapat, saya cuma ngutip, melihat kematian sebagai proses kembali ke asal mula, atau yang disebut dengan mulih mulo mulanira.

Masyarakat Jawa mengatakan bahwa kematian justru awal dari kehidupan yang abadi dan sebenar-benarnya, dan akhir dari perjalanan dunia yang fana. “Urip neng donyo iki mung mampir ngombe,” yang diibaratkan bahwa hidup di dunia ini hanya “mampir” sebentar untuk kemudian meneruskan perjalanan sesungguhnya setelah meninggal.

Di bulan ini, dua tahun yang lalu, saya kehilangan Bapak. Lalu kemarin, Bapak, tepatnya Bapak mertua, telah dijemput oleh malaikat Izrail. Setelah sempat tak sadarkan diri beberapa hari, mencoba bertahan, ia akhirnya ‘mesti pulang.’

Bapak bakal menempuh perjalanan tahap selanjutnya. Ia mesti menghadapi apa yang mesti di hadapi di alam kubur. Dan tidak ada bekal apa pun yang bisa kami berikan padanya selain doa-doa.

Manusia punya berbagai macam cara untuk mengenang yang telah tiada. Ada yang menciptakan lagu, puisi, memajang foto, dan lainnya. Kini setelah Bapak tidak ada, yang tersisa bagi kami adalah meneruskan hidup.

‘Pada akhirnya memang terkadang kita harus kalah dan menyerah pada musim

sebab kita diciptakan Tuhan sebagai manusia maka kita pun terluka

sebab kasih menjadi kisah, dan kisah menjadi sejarah.’

Bapak telah menciptakan berbagai kenangan dan kisahnya. Allahummaghfirlahu war hamhu wa ‘afii wa fu anhu.

 

WhatsApp Image 2019-12-17 at 14.41.46

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s