Desember (lagi)

Genap sudah saya menghabiskan waktu hidup hingga usia tigapuluhan di Desember ini.

Kurangi sepuluh tahun dari usia saya, Muhammad Al Fatih sudah berhasil menaklukkan Konstatinopel. Selisih sekitar satu dua tahun dari usia saya Haruki Murakami memutuskan untuk menutup barnya dan fokus untuk menulis novel, langkah yang kemudian melejitkan namanya dan membuatnya kaya raya.

Nadiem Makarim usianya cuma terpaut tiga tahun lebih tua dari saya, dan kini ia sudah jadi Menteri Pendidikan. Tapi ada juga beberapa kawan saya yang tidak mencapai usia saya namun takdir sudah menghendakinya untuk tiada. Saya kehilangan beberapa teman satu kelas sewaktu kuliah dulu -mereka meninggalkan dunia yang fana ini terlebih dahulu- yang seharusnya saat ini masih bisa ngopi-ngopi bareng.

Setiap orang tidak pernah tahu sampai kapan usianya bakal berhenti. Kebanyakan orang, termasuk saya, kemudian jadi benar-benar takut dan tidak siap saat usia itu selesai.

Tapi sebelum waktu itu datang, kebanyakan orang, termasuk saya, takut untuk menjadi tua. Kalau kata Nicky Stephani, kita enggan membayangkan diri menua, padahal, kita tahu bahwa pada akhirnya segala sesuatu akan menjadi tua.

Menjadi tua adalah kemunduran, menjadi tua adalah kelemahan, dimana tubuh yang makin reot, makin bongkok, dan energi tak seganas sewaktu muda, begitulah kata orang-orang. Kita khawatir bahwa kelak kita tidak bisa apa-apa. Tidak bisa jalan-jalan yang jauh ataupun kulineran brutal karena keterbatasan aturan pemenuhan gizi tubuh.

Saat makin tua ini kita juga sadar dengan usia dan kemudian berdecak kagum pada prestasi anak-anak muda yang saya sebutkan diatas. Kita gumun di usia yang begitu muda mereka telah menorehkan banyak hal.

Kita memandang anak-anak muda dengan rasa kagum sekaligus iri; mengapa saat muda kita tidak bisa seperti mereka. Kita menyesali hari yang lalu dan berangan bisa kembali pada masa-masa muda.

Yang menakutkan dari menjadi tua, kata Nicky, adalah membayangkan diri sendiri menjadi tua dalam kerangka pikir yang menempatkan usia tua jauh dari kondisi kita saat ini. Imajinasi kita melanglang buana ke masa tua sedangkan pikiran kita terkungkung pada romantisme kemudaan yang menjadi standar masa kini.

Sebagian dari kita lantas kemudian menolak tua. Dalam arti fisik ataupun pikiran. Secara sederhana bisa dilihat dari iklan kosmetik yang selalu menjanjikan ‘terlihat sepuluh tahun lebih muda.’

Tapi selain itu, kini banyak kemajuan teknologi di bidang medis yang bisa meremajakan tubuh. Bahkan orang-orang super kaya di dunia ini sudah berpikir untuk membuat terobosan medis agar bisa hidup abadi.

Imaji itu tidak hanya ada di fiksi, bila kita membaca Homo Deusnya Yuval, maka orang-orang super kaya mulai berusaha mewujudkannya. Setahap demi setahap mereka yakin bahwa akan ada teknologi yang bisa membuat manusia tetap muda dan abadi.

Hidup abadi dan tetap muda adalah obsesi manusia sepanjang zaman.

Namun, alih-alih menerima ketuaan sebagai sebuah kutukan, Eddie Spencer dalam serial Jumanji, justru menyatakan bahwa usia tua adalah sebuah anugerah.

Hari ini saya menjadi lebih tua dari tahun kemarin. Dan tahun esok saya akan menjadi lebih tua dari tahun ini juga. Dan sejatinya kita semua juga mengalami hal yang sama.

Saya lalu melihat dan menyadari bahwa si kecil Zaza makin tumbuh besar. Ia sudah mulai berlari-larian dan mulai abot untuk digendong.

Lalu, saya juga sadar, bahwa di usia sekarang ini, ternyata saya masih belum berbuat apa-apa. Saya masih ‘bawang kopong’ sementara disisi lain Luffy sudah menjadi seorang Yonkou dan Naruto sudah menjadi Hokage di Konoha.

Saya juga sadar, yang membaca status ini pun kemudian cuma membaca saja. Urun like dan komen saja tidak mau, apalagi ngirim kado ke alamat rumah. Pancen payah kabeh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s