Pilihan yang Tersisa Bagi PKS

Apa yang tersisa setelah Jokowi makan siang bareng Prabowo? Di akar rumput tetap saja menyisakan dua kelompok besar, yang mendukung dan yang menolak. Tapi pertanyaan lebih lanjut sebenarnya adalah apa yang terjadi setelah pertemuan itu pada partai koalisi Adil Makmur.

Kita tahu bahwa koalisi ini tidak sesolid yang digaungkan. Demokrat sudah menunjukkan gelagat tidak ‘betah.’ Begitupula PAN yang konon kabarnya dari lubuk hati terdalam sebagian elite-nya menginginkan bergabung dengan pemenang pilpres.

Gerindra?

Saya kira ada bisikan-bisikan agar partai ini bergabung saja. Dengan dalih demi keutuhan bangsa dan negara Indonesia yang sempat memanas gara-gara persaingan pilpres yang begitu ketat. Tapi apakah bergabungnya Gerindra otomatis menghapus friksi di akar rumput?

Saya kira tidak otomatis begitu. Pada dasarnya dua kubu ini tidak terpaku pada sosok. Sosok hanyalah sarana agar mereka punya alasan untuk menyandarkan harapan dan cita-cita itu. Tapi ini pertarungan value.

Bagi sebagian pendukung Prabowo, terutama yang merupakan pendukung garis keras dan militan pada pilpres lalu, amat mudah untuk berpaling dari Prabowo saat ia menunjukkan gelagat ‘berkhianat.’ Pokoknya Prabowo harus sesuai dengan ego mereka. Yaitu pokoknya tidak Jokowi dan the ganks.

Inilah salah satu dilema yang bakal dihadapi Prabowo setelah pilpres berlalu. Saat ia menunjukkan gelagat ‘lembek’ saja maka pendukungnya langsung balik kanan.

Lebih gampang ya jadi PKS. Ya, partai yang mendapat tambahan suara hingga 3 juta ini posisinya hanya tersisa satu saja; oposisi. Tidak bisa yang lain.

Mau bergabung ke koalisi Jokowi jelas tidak bisa. Pertama, belum tentu partai koalisi bakalan menerima. Mungkin diajak wae ora. Kedua, sudah jelas pemilihnya bakalan langsung balik kanan. Karena banyak yang menilai sebenarnya kenaikan suara PKS ini akibat dari kelompok muslim non-parpol yang berbondong-bondong untuk aktif berpolitik.

Karena sudah jelas posisinya maka lebih mudah bagi PKS untuk memainkan perannya di panggung politik kini dan nanti. Ya, ia tinggal beroposisi seoposisi-oposisinya. Melawan semelawan-melawannya hingga pemilu 2024.

Fokus jadi oposisi yang baik dan benar, tidak perlu pusing dan ribut mengurus partai baru yang konon kabarnya bakalan ada di tahun ini itu.

Harus selalu diingat bahwa ada 40an persen suara yang tidak mendukung Jokowi yang masih bisa dieksploitasi. Bila PKS mampu mengeruk dengan brutal ceruk segmen ini, maka bisa jadi perolehan suaranya bakalan makin meningkat di pemilu mendatang.

Tapi ya mesti ingat juga, kalau PKS jadi satu-satunya oposisi maka ia akan melawan gerombolan besar. Gerombolan yang siap keroyokan untuk menenggalamkan. Karena, seperti kata guru saya, lebih dari separo urusan politik itu ada di tingkat elite.

Oleh karena itu, sangat logis dan gampang dipahami bila PKS terus mendorong Prabs dan Koalisi Adil Makmur untuk beroposisi. Karena untuk melawan akan lebih kuat bila ada temannya.

Cuma problemnya, partai koalisi kemarin masih mau diajak atau tidak, karena jangan-jangan nanti yang dapat ‘nangkanya’ ya PKS lagi. Soalnya selain PKS, partai yang lain suaranya pada turun.

Beginilah politik. Utak atik suara rakyat tiada akhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s