Segelas Teh yang Sentimentil

Gelas teh itu berdiri tegak diantara kaleng biskuit Monde, kacang goreng, Astor, dan tak lupa; tape ketan. Dibuat oleh ibu saya sebelum kami berangkat ke lapangan untuk sholat Id. Sesuatu yang selalu dilakukan oleh ibu hampir setiap hari.

Teh, bagi kita, adalah minuman seluruh umat. Agak berbeda dengan kopi, budaya kita lebih senang menikmati teh di pagi hari. Lalu menyuguhkan teh saat ada tamu. Dan selalu, bahkan hampir wajib, harus ada teh dalam setiap acara, baik yang resmi maupun yang tidak resmi.

Saya yakin, bahwa setiap rumah tangga yang ada diseluruh Indonesia ini, selalu saja akan ada segelas teh setiap harinya.

Ibu punya kebiasaan untuk menyajikan teh hangat setiap pagi. Terkadang ia membuat tiga sampai empat gelas. Saya biasanya langsung ngembat satu gelas, Bapak satu, lalu sisanya bisa diminum penghuni rumah lainnya.

Sehabis sholat Id, biasanya Bapak akan duduk tenang di kursi. Menanti tamu yang berdatangan sambil menata kotak dan kaleng biskuit di atas meja. Bapak adalah orang yang sangat memperhatikan betul kerapian. Maka bila ada kaleng biskuit yang posisinya tidak pas, tangannya mungkin gatel untuk langsung membetulkan.

Satu hal yang saya sukai dari Bapak adalah ia begitu mudah berteman. Karena itu biasanya di rumah, setiap hari raya, selalu penuh dengan kawan dan saudara yang berkunjung.

Sewaktu masih sehat tak jarang Bapaklah yang berkunjung kesana kemari. Ke rumah-rumah saudara dan kerabatnya. Terutama yang di desa.

Di tempat kelahiran Bapak itulah ia akan tampak ‘nggleleng.’ Setiap ketemu anak-anak pasti ada saja duit yang ia bagikan. Terkadang ia juga berikan duit itu pada simbah-simbah. Kalau tak ada duit, ia akan memberikan sebungkus rokok.

Namun setelah sakit, dan ia tak bisa lagi kemana-mana, maka ia cuma duduk di kursi. Ngobrol ngalor ngidul bersama orang-orang yang masih mau datang. Dan tak lupa, membagi-bagikan duit pada anak-anak yang dibawa orang tuanya bertamu.

Dan bila ia haus, segelas teh sudah siap di meja.

Ingatan dan kenangan terkadang adalah sebuah alasan kita melakukan sesuatu yang sangat tidak logis. Seperti segelas teh yang disajikan ibu di atas meja itu.

Teh itu memang bukan untuk siapa-siapa. Teh itu buat Bapak, walau sebenarnya Bapak sudah lama tiada. Sudah hampir dua tahun.

Maka dari sejak jadi teh panas hingga malam dan sudah berubah jadi dingin, teh itu tak berkurang sedikit pun. Tidak ada yang meminumnya.

Kalau dipikir-pikir mungkin itu adalah perbuatan yang sia-sia. Dari sudut pandang lain, kita bisa menilai bahwa teh itu jadi mubazir.

Atau bisa saja ada yang mengatakan itu sebagai sebuah sesajen; persembahan untuk orang mati.

Bila ada yang berkata begitu dihadapan saya, yah, saya cuma mau bilang, “Rasah kakean cangkem! Orang tua terkadang perlu melakukan sesuatu yang sentimentil seperti itu. Rasah ditafsiri aneh-aneh.”

Ya, tingkah laku sentimentil untuk mengingatkan kami bahwa sudah dua kali lebaran tanpa kehadiran Bapak.

WhatsApp Image 2019-06-11 at 16.45.50

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s