Setelah Game of Throne berakhir.

Setelah Game of Throne berakhir.

Selama menonton serial game of throne ini, dua kali saya mesti menelan kekecewaan. Pertama, saat terbunuhnya Night King yang cuma dengan adegan “sak uprit” oleh Arya. Kedua, terbunuhnya Daenerys Targaryen oleh Jon Snow, yang juga cuma “walah, mung ngono kui thok.”

Kematian dua tokoh sentral itu tidak sehebat kiprah mereka. Tidak sebanding dengan jabatan mereka selalu peran antagonis yang punya kekuatan ajaib dan penunggang naga. Penonton mengharapkan pertempuran yang epic dan heroik, namun hal itu gagal disajikan.

Setelah tontonan perebutan kekuasaan ini berakhir, saya jadi makin sadar, pertama, bahwa kekuasaan adalah tabiat manusia. Kekuasaan datang untuk menggoda orang-orang agar memperebutkannya. Dan dengan cara apa saja.

Kadang terlihat kejam, tapi di mata kekuasaan, yang ada hanyalah berhasil atau gagal.

Pertaruangan Klan Lannister dengan Klan Baratheon adalah untuk merebut klaim atas tahta Iron Throne. Yang sudah seharusnya menjadi jatahnya Baratheon setelah meninggalnya King Robert. Namun, Lannister, yang sudah mencicipi manisnya kekuasaan terkena jeratnya.

Tabiat manusia pula bahwa ketika kekuasaan berhasil diraih, maka kekuasaan bakal menjeratnya. Dan membuatnya untuk selalu mempertahankannya.

Lalu ada Klan Stark yang ingin menuntut balas. Ada pula Targayen yang ingin mengklaim juga Iron Trhone. Dan banyak klan-klan lain yang akhirnya terlibat, saling berkelindan memicu konflik demi konflik.

Dalam Game of Throne, orang sebaik apa pun kadang bisa berubah menjadi kejam. Dan brutal. Begitu pula sebaliknya, orang sekejam apa pun bisa mempunyai sisi-sisi yang humanis.

Dalam politik memang kita tak bisa menilai baik dan buruk, kata dosen saya sewaktu saya kuliah dulu — walau tentu saja, saya tidak setuju sepenuhnya dengan pernyataan itu.

Game of Throne adalah gambaran kehidupan perebutan kekuasaan di dunia nyata. Dan semua teori-teori yang ada di cerita itu, saya kira, betul-betul terjadi di kehidupan sehari-hari kita.

Wawasan dalam serial ini bisa menjadi tambahan referensi bagi kita dalam melihat konflik perebutan kekuasaan di dalam negara, atau bahkan di dalam partai politik sekalipun. Dengannya kita jadi dengan mudah memahami, alasan para aktor-aktor utama berbuat hal-hal yang kadang jauh dari logika dan kompas moral.

Kalau masih ada yang bersikap naif dalam memandang perebutan kekuasaan, maka semestinya kita mengingat kata Ygritte, “You know nothing, Jon Snow.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s