Bapak Umroh

Sepanjang dalam ingatan saya, Bapak bukanlah orang yang punya keinginan kuat untuk menunaikan ibadah di Tanah Suci. Tak pernah saya mendengar ia ingin pergi ke Mekkah hingga akhir hayatnya.

Masa mudanya khas pemuda desa yang pergi ke kota; cari duit kemudian bersenang-senang bersama kawan-kawan. Masa tuanya habis untuk berobat dan menahan sakit yang seringkali kambuh.

Bapak, tidak seperti kebanyakan orang tua muslim lainnya, yang ingin pergi Haji saat sudah sepuh. Saat tabungan sudah cukup. Di masa tuanya ia cuma punya keinginan satu hal; bila harus meninggal, maka ia ingin ada di rumah. Dan keinginan itu dikabulkan Gusti Allah, dua tahun lalu.

Bila merunut pada kategori yang dibikin Clifford Gertz, maka Bapak termasuk kategori Abangan. Ia sangat Sukarnois. Walau saya tahu tentu bahwa ia tak paham betul dengan pemikiran Bung Karno. Hanya saja yang namanya sudah kadung suka dengan Bung Besar, ya gimana lagi. Maka setiap pemilu datang ia selalu nyoblos moncong putih, dengan alasan yang sangat sederhana; partai itu dipimpin anaknya Bung Besar.

Lahir sebagai anak pertama dan satu-satunya, Bapak sudah harus menjalani kehidupan keras sejak kecil. Apalagi ia lahir di kabupaten yang termasuk salah satu daerah paling miskin di Jogja. Tempat tinggalnya ada di pucuk bukit yang berbatu dan tandus. Jarak dari kota, bila ditempuh dengan sepeda motor saat ini, bisa memakan waktu dua sampai tiga jam. Itu pun saat ini jalannya sudah beraspal, lha kalau jaman dulu?

Tahun-tahun ia tumbuh adalah tahun-tahun yang penuh gejolak politik di Indonesia. Dan bila saya mengingat kembali rumah Simbah yang di dusun terpencil itu, saya jadi maklum mengapa Bapak sangat tempramental. Mungkin karena latar belakang lingkungan yang turut membentuk kepribadiannya.

Saya akui memang Bapak adalah orang yang galak. Termasuk pada anak-anaknya. Salah meletakkan handuk saja bisa memancing bentakannya, dan saya adalah korban paling sering dimarahi.

Tapi Bapak juga sangat royal.

Royal dalam arti ia sangat ringan tangan untuk bagi-bagi duit pada para saudara ataupun tetangga. Walau duit yang dibagi tak seberapa, dan terkadang kalau tak ada duit ia bagi-bagi rokok. Saya menyadari bahwa sikap itu tak semata karena ia punya banyak duit atau dermawan, tapi saya rasa ada sebuah rasa “eling masa lalu dan tempat lahir” serta kebanggaan tersendiri yang muncul dalam dirinya saat ia bagi-bagi seperti itu.

Bapak selalu bercerita bahwa ia tak pernah bisa sekolah sampai tinggi. Ia mengabiskan masa muda dengan menjadi tukang parkir di Ngejaman, Maliboro. Dari tempat itu, katanya, ia ketemu sama Mamak. Saya rasa pertemuannya dengan Mamak menjadi sebuah anugerah yang luar biasa baginya.

Ia juga senang bercerita tentang kawan-kawannya sewaktu muda dulu. Kawan-kawan yang sudah dianggap selayaknya saudara sendiri. Saya kenal beberapa diantaranya, dan saya tahu saat ini semuanya sudah almarhum.

Akhir-akhir ini saya berpikir bahwa beribadah ke Tanah Suci, bisa umroh atau haji, itu ya tergantung sama Gusti Allah. Apa yang terjadi dalam hidup kita semuanya sebenarnya terserah sama Allah.

Ada sebagian orang yang punya keinginan kuat untuk pergi ke Mekkah, walau tidak punya uang. Ia menabung sedikit demi sedikit, tapi tetap saja jumlahnya tak pernah cukup. Selalu ada keperluan lain yang lebih mendesak sehingga tabungannya habis. Tapi bila Allah sudah berkehendak, entah bagaimana caranya, sebagian orang-orang itu bakalan bisa berangkat ke Mekkah.

Ada juga orang-orang yang tak punya niat ke Mekkah. Pernah terbersit keinginan, mungkin, tapi itu hanya sekadar ingin semata. Namun bila Gusti Allah menghendaki, tetap saja orang-orang seperti itu, entah bagaimana caranya, tetap saja bisa ke Tanah Suci.

Kita ini cuma hamba yang tidak bisa mengelak bila Gusti Allah sudah menuliskan takdirnya.

Bapak mungkin satu diantara orang yang keinginan ke tanah suci tak begitu kuat. Itu pula yang mungkin membuatnya tidak bisa pergi ke Mekkah sewaktu ia masih sehat. Tapi, alhamdulillah, saat ia sudah wafat malah ia bisa “pergi” umroh.

Walau secara tidak langsung.

Tempo hari sewaktu saya umroh, tak lupa saya ‘mengumrohkan’ Bapak. Saya sendiri juga tak menyangka bahwa bisa pergi sowan Kanjeng Nabi sekaligus umroh. Ya, alhamdulillah.

Maka apabila kita bisa mengirim pesan ke orang di alam kubur, saya ingin bertanya pada Bapak, “Pak, paket umroh e wes tekan urung?”

Sayang tidak bisa. Dan semuanya pun menjadi rahasia Illahi yang tak akan pernah kita tahu hingga kelak Gusti Allah sendiri yang akan membukanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s