Bir Halal

Murakami, dalam sebagian novelnya, selalu menyertakan sepotong kisah tokoh utama yang sedang ngebir.

Mampir ke bar kecil saat senja, sepulang kerja. Bertemu wanita yang kemudian membuatnya jatuh cinta, lalu pulang dan mengurung diri dalam kamar sempit.

Bagi anak-anak muda dan kelas pekerja di luar negeri sana, minum bir sepertinya sudah menjadi kebiasaaan. Kalau kita, mungkin, masih sebatas ngopi-ngopi santai.

Kawan saya punya imaji seperti itu; minum bir. Sayang, perintah agama melarang untuk mengkonsumsi minuman beralkohol.

Beruntung, mungkin sebentar lagi imaji kawan saya itu bakalan terwujud. Musababnya, kini sedang tren adanya bir non-alkohol alias bir halal.

Masyarakat Eropa, seperti Jerman dan Spanyol, kini makin banyak yang beralih ke bir tanpa alkohol. Sebabnya macam-macam. Karena ingin pola hidup sehat, yang juga sedang tren, atau mungkin karena lelah tiap pulang dari bar selalu mabuk.

Oleh sebab itu, mereka berlomba-lomba beralih ke bir yang non alkohol. Rasanya dapat, mabuknya hilang.

Tren baru ini terungkap setelah sebuah studi dilakukan oleh Mintel bertajuk Europeans Consumption of Non-Alcoholic Beer yang dirilis bulan lalu. Didapati sekitar tiga perlima atau 60 persen pembeli memilih bir-bir non-alkohol di Spanyol pada tahun 2013.

Itu penelitian pada tahun 2013, dan kini sudah tahun 2019.

Nah, yang menarik yang berkaitan dengan bir halal adalah saat saya membaca sebuah berita Taybeh Beer, Bir Halal Buatan Asli Palestina, yang dirilis kompas dot com, tanggal 2 Februari lalu.

Perusahaan bir Taybeh, yang di dirikan pada tahun 1994 oleh Nadim Khoury dari Palestina membuat bir yang lolos sertifikasi “kosher” dan halal. Ternyata umat Yahudi, yang jadi pasar utama bir ini, juga punya larangan dalam memilih makanan dan minuman. Yang disebut “kosher.”

Perusahaan ini memasok bir versi kosher untuk warga Yahudi dan juga bir tanpa alkohol buat umat Muslim.

Si pendiri perusahaan punya mimpi untuk memasarkan bir asli Palestina itu untuk negara Palestina yang berdaulat. Sayangnya, impian itu belum juga terwujud, tetapi perusahaanya malah makin besar. Produksi Taybeh sekarang mencapai 600.000 liter bir per tahun.

“Dengan atau tanpa alkohol, sebotol bir akan membuat orang rileks dan melupakan politik untuk sementara waktu….Jadi bir ini menyatukan orang dan dapat berkontribusi pada perdamaian juga,” kata Khoury.

Bisakah bir membuat damai? Saya tentu saja tidak bisa menjawabnya. Kalau dilihat dari sisi marketing, ya mungkin itu hanya strategi marketing saja. Iya tho?

Nah, melihat tren ini, saya kira mungkin sebentar lagi tren ini juga bakalan masuk Indonesia, lebih khususnya ke kalangan anak-anak muda.

Bisa dilihat dari tradisi ngopi yang kini marak.

Dulu, ngopi bahkan bisa disebut sebagai kegiatan unfaedah. Buang-buang waktu. Dan tak berguna. Selain itu juga merugikan kesehatan.

Namun, kini tak sampai satu dekade, ngopi-ngopi menemukan keasyikannya. Mulai dari yang sekadar minum asal kopi, hingga yang advance.

So, kapan kita akan ngebir bareng tentang hari ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s