Revisi

Ada-ada saja kelakukan para murid-murid Ustadz Abu Farhan.

“Piye? Ono opo Pak Toro?” tanya Ustadz Abu Farhan yang sedang di sowani oleh Pak Toro.

“Nganu, ngeten niki alhmdulillah kemarin sewaktu kulo minta di doakan kaleh pak ustadz…”

“Piye.. piye… kabul ora hajat e,” potong Ustadz Abu Farhan.

“Nggih, alhamdulillah, kabul Pak Ustadz..”

“Naahh…. apik dong.. terus piye iki ono masalah opo maneh?”

“Nganuu… ngeten, kemarin kan kulo nyuwun di doakan muga-muga pekerjaane ramai lan lancar…”

“Iyo.. iyoo… sak iki nek rame tho?”

“Nggih rame Pak Ustadz. Ramai lan lancar. Cuma masalah e niki nganu ee… ee…”

“Piye, ngomong sing jelas ngunu lho.. Orasah plintat plintut..”

“Inggih, Pak Ustadz.. nganuu e.. gaweane niku ramai lancar cuma mboten profit. Menawi doane di revisi saget mboten nggih? Rame lancar lan profit…”

“Woalaaahh…”

Makin Tua

Apakah makin tua, kita akan makin bahagia?

Kemarin usia saya bertambah lagi satu tahun. Dan bakal terus bertambah detik demi detik, menit demi menit dan hari demi hari, tentu dengan catatan: jika Gusti Allah masih memberi usia.


Dan pertanyaan itu saya pikir berulang kali sebelum akhirnya menulis status ini. Status tidak penting sebagai pertanda bahwa saya makin tua.

Bagaimana kita menjawabnya?

Memang saat ini, bila dibandingkan dengan masa lalu, ada hal-hal yang membuat kehidupan sehari-hari saya makin bahagia. Misalnya saja, saat mendengar rekaman suara Zaida yang bilang, “Zaida kangeeen Papaaahh,” itu sudah membuat indikator kebahagian meningkat tiga bar. Dibuatkan donat sama mamah e Zaida, indeks kebahagiaan meningkat lima bar.

Namun, saya juga kehilangan momen-momen bahagia yang bisa saya nikmati di masa lalu. Misalnya bermain bola sore hari di lapangan bersama teman-teman masa kecil.

Pada sisi lain, rasa-rasanya, saat ini ada lebih banyak persoalan yang mesti dihadapi dibandingkan masa kecil dahulu. Contohnya, waktu kecil tak pernah terpikirkan cicilan, kini saban bulan sibuk menghitung-hitung kebutuhan harian.

Apakah makin tua maka kita bisa membuat kita lebih berbahagia atau sekadar memperpanjang penderitaan?

Ada yang memberikan jawaban melalui hitung-hitungan.

Kalau kita makin banyak mendapat kebahagiaan dalam menjalani hidup, maka itu akan lebih baik. Kebahagiaan itu bisa berwujud pemenuhan keinginan-keinginan materiil, tapi ketika kita menua, tentu kita akan pelan-pelan kehilangan kemampuan untuk menikmati hal-hal materiil itu.

Seorang filsuf, Bernard Williams, berpendapat, hal-hal yang memberi makna pada kehidupan kita adalah “hasrat kategoris,” yang sangat penting bagi identitas kita.

Hasrat ini misalnya menulis novel, mengasuh anak atau menggelar proyek amal. Ada pula hasrat yang “tidak bermakna”, seperti kebutuhan makan, yang menurut William tidak dapat membahagiakan kita dalam jangka panjang.

Namun, masih kata Williams, jika kita hidup cukup lama, kita akan memenuhi semua hasrat kategoris dan akhirnya membuat hal-hal yang bikin kita bahagia jadi makin sedikit.

“Tur ngene lho,” kata guru saya, “urip iku kan gak cuma golek seneng thok. Gak cuma golek bahagia.”

Menghitung-hitung apa yang membuat kita bahagia, katanya, tidak akan pernah bisa berhenti. Lebih baik adalah menghitung rahmat Gusti Allah yang sudah pasti tidak akan sanggup kita hitung.

Hal itu yang akan membuat kita lebih bersyukur. Bisa jadi ada persoalan-persoalan yang bikin ruwet, tapi semua harus disyukuri. Dengan rasa syukur itu hati kita bisa menjadi jauh lebih lapang, lebih tenang, lebih stabil, seperti samudera. Dan bisa menjalani hidup dengan lebih baik.

Semua yang kita temui di hidup ini, pokoknya alhamdulillah. Karena memang sudah diberi hidup saja, semestinya sudah membuat kita mengucap puji terus menerus pada Allah. Karena segala puji memang milik Allah, dan segala duit dibagi-bagi.

Kemarin saya makin tua. Alhamdulillah, masih diberikan hidup.

Sisa hidup untuk bekerja membalik tanah, memasuki rahasia langit dan samudera serta mencipta dan mengukir dunia. Namun, walaupun hidup seribu tahun kalau tak sembahyang apa gunanya.

Dan ternyata, tanpa disadari makin tua kok ya makin (((tampak ganteng.))) 

Sebaik-baik harapanku

Dan engkau menunggu disana; di pinggir telaga yang airnya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu dan aromanya lebih harum dari minyak kasturi.

Dan aku, yang selalu berharap menjadi bagian dari orang-orang yang engkau tunggu itu.

Aku mungkin tak sebaik yang lain dalam merindumu. Mungkin pula tak sebaik yang lain dalam mencintaimu. Tapi hatiku selalu berharap bahwa kelak aku akan berada dalam pandangan ridhomu.

Sungguh, bilamana aku tak menemukan sesuatu di diriku yang pantas untuk ku bawa saat bertemu dengan engkau, salahkah jika aku masih berharap pertolonganmu?

Sungguh, bilamanakah jika aku hanya membawa satu keyakinan bahwa engkau tidak akan pernah mengecewakan orang yang meminta perlindungan dengan namamu, masihkah Engkau bersedia memegang tanganku?

Karena pada siapa lagi aku mesti bertumpu selain padamu, ya Rasulullah, sebaik-baik harapanku.

Nego

Suatu hari Pak Haryo mengeluh pada Pak Toro.

“Lagi sepi saiki ojek online e,” katanya.

“Lha, yo ngono kui. Kadang rame kadang sepi kui wes biasa. Tenang wae, rejeki wes diatur Gusti Allah,” jawab Pak Toro. “Wes. Ayo, melu aku wae. Golek panganan neng Rembug Dhahar.”

Tak berapa lama keduanya pun pergi ke Embung Potorno.

“Mangan sing akeh. Mumpung tak bayari.”

“Tenane? Alhamdulillah.”

Pak Haryo pun tanpa ragu mengambil seporsi besar nasi mandi. Dan dia makan dengan lahap.

“Wa, enak tenan iki! Rasane mantep tenan segane. Es jeruk e yo enak. Eh, iki bebek goreng e yo empuk,” katanya.

Pak Toro yang mendengar cuma manggut-manggut setuju.

Tak berapa lama kemudian keluarlah nasihat berharga dari Pak Toro kepada Pak Haryo.

Ngene lho, kata Pak Toro sambil makan, rejeki kui akeh bentuknya. Ada yang berupa nikmat kesehatan, nikmat berteman dengan orang baik. Termasuk kowe tak jajakke saiki kui yo terhitung rejeki. Dadi ora mung bentuk duit cash.

Pak Haryo mendengar dengan takzim.

Tak berapa lama kemudian, setelah selesai makan, Pak Haryo pamit ke mushola warung sebentar.

Ia hendak sholat. Selesai sholat ia berdoa, “Gusti, matur nuwun atas rejeki yang Engkau berikan kepada Hamba. Termasuk rejeki saget makan nasi magbluba ten Rembug Dhahar kanti mboten mbayar niki. Emm, menawi saget, mbenjang rejekine sing cash mawon nggih. Soale kulo butuh e nggih duit cash je. Amin.”

Begitulah kelakuan para murid Kiyai Sidi. Gusti Allah wae di nego.

Prasangka Buruk Sama Teman

Suatu hari Pak Toro akan menghadiri acara pengajian di tempat Kiyai Ahmad. Ia janjian bersama temannya; Pak Aryo.

“Pokokmen aku nek ra diamfiri, ora menyang,” katanya.

“Yoh, tak amfiri. Tunggu pinggir dalan. Mengko nek wes cerak tak telpon. Suwe, tinggal,” begitu permintaan Pak Aryo.

“Yoh, siyap.”

Pak Toro pun segera bersiap-siap. Kurang lebih masih ada waktu sekitar 10 menit untuk temannya sampai di pinggir jalan dekat rumah Pak Toro, sehingga ia memutuskan untuk menunaikan sholat isya terlebih dahulu.

Namun saat sudah dapat dua rakaat, tiba-tiba hape yang ditaruh di depannya berbunyi. Dari namanya sudah terlihat bahwa yang menelpon adalah Pak Aryo.

Tanpa ragu Pak Toro langsung menyambar hapenya dan memutuskan untuk membatalkan sholatnya. “Piye?”

“Wes neng dalan, gek ndang.”

“Yoh,” jawab Pak Toro sambil mengambil baju dan tidak jadi sholat isya. “Mengko sholat isya neng lokasi wae,” begitu pikir Pak Toro.

Sesampainya di dalam mobil, Pak Toro pun bercerita bahwa ia tadi sedang sholat isya. Begitu Pak Aryo telpon ia langsung membatalkan sholatnya yang baru dapat dua rakaat.

“Loh, kepiye tho kui?” tanya Pak Aryo kaget. “Sholat kok dibatalke mergo telepon.”

“Ngene lho. Insya Allah, aku ngerti nek Gusti Allah kui pangerten. Lha nek kowe kie blas ra pangerten je. Coba nek mau ora tak angkat, lha yo nek wes jelas thok tinggal tho Booss….”

Begitu mendengarnya Pak Aryo dan yang lain pun tertawa. “Woaalaaah, sempruull…”

Itulah kelakuan para murid homeschooling yang bengal. Selalu mengutamakan prasangka baik pada Allah, dan mengedepankan prasangka buruk pada teman sendiri.